• Regulation

  • Health

  • Europe

  • America

  • Asia

  • Australia

  • Africa

Haryono: Tokoh Panutan Masyarakat Jangan Merokok

12 Mei 2011
Sumber: Suara Karya

JAKARTA : Usaha untuk mengalihkan kebiasaan merokok ke kebiasaan lain masih dirasakan sulit. Pasalnya, banyak tokoh yang sering dijadikan panutan masyarakat masih menjadi pecandu rokok. Alhasil, upaya untuk menghindari keluarga khususnya anak dari paparan asap rokok pun masih sulit dilakukan.
Demikian dipaparkan Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS), Prof Dr Haryono Suyono, dalam sambutannya ketika membuka semiloka bertema "Perlindungan Keluarga dan Anak dari Paparan Asap Rokok" di Jakarta kemarin.
Menurutnya, tidak hanya kalangan orang tua yang menjadi pecandu rokok, saat ini tidak sedikit remaja yang juga ikut-ikutan merokok. Mereka juga banyak dipengaruhi oleh gaya hidup seseorang yang diidolakan. "Kalau tidak merokok, merasa diri tidak keren," kata dia.
Yang lebih menyedihkan, kebanyakan perokok berada dalam tataran menengah ke bawah. Untuk itu, bagi para perokok dewasa, harus dicarikan kebiasaan baru bagi mereka. Perlu dikembangkan sebuah strategi untuk memperoleh simpati masyarakat luas, sebagai pengganti tingkah laku merokok.
Tapi, diingatkan Haryono, strategi itu tentunya dengan tidak menyalahkan mereka yang sudah telanjur menjadi perokok. Mereka secara bertahap harus diajak untuk menikmati kebiasaan baru yang lebih sehat.
Sedangkan untuk para remaja, perlu dicari dan diperkenalkan gaya hidup baru dari idolanya. Sang idola juga harus membantu dengan mengalihkan kebiasaan merokok, misalnya gaya berpakaian atau aksesori yang dipakai sang idola. "Jadi, bukan gaya merokoknya yang ditiru," kata dia.
Semiloka yang berlangsung di gedung DNIKS itu terselenggara atas kerja sama DNIKS dengan Majelis Pelayanan Kesehatan Umum PP Muhammadiyah. Semiloka itu menampilkan narasumber Dr Kartono Muhammad dari pengurus besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dr Emil Agustiono dari Deputi Menko Kesra Bidang Kependudukan, Kesehatan, dan Lingkungan, serta Dr Sudibyo Markus selaku Ketua People Caucus Againts Addictives.
Dari semiloka itu diperoleh kesimpulan, orang yang tidak merokok tapi menghirup asap rokok atau perokok pasif mempunyai risiko sama dengan orang yang merokok. Selain itu, dijelaskan, dampak asap rokok terhadap kesehatan menyebabkan penyakit jantung dan gangguan pembuluh darah, serta risiko kanker paru-paru 20 hingga 30 persen.
Disebutkan pula, perempuan yang tinggal dengan suaminya yang perokok sangat berisiko terkena kanker payudara. Kesimpulannya, asap rokok tidak hanya membahayakan si perokok sendiri, tapi juga orang-orang di sekitarnya. (Budi Seno)

Filed Under:

1 comment

Trackback URL | Comments RSS Feed

  1. Anonim says:

    I like it whenever people come together and share thoughts.
    Great site, keep it up!

    My homepage; Power Electronic Cigarette

     

Leave a Reply